Langsung ke konten utama

Ucapan Selamat untuk rumah baru Anjari

Sebelumnya ayo tengok halaman about me yang tertera di blog anjaris.me ini. Kalimat di awali dengan “mulai ngeblog sejak tahun 2004”. Kalau sudah begitu lama, lantas kenapa blog ini justru baru mulai live terhitung tanggal 13 November 2012?


Memang ini faktanya! Nama Anjaris.me dipilih pria bernama lengkap Anjari Umarjianto ini sebagai rumah baru. Sebelumnya ia mungkin lebih dikenal sebagai eyang dalam komunitas blogdetik. Kala itu ia punya blog yang beralamatkan di anjari.blogdetik.com.


Setelah bertualang beberapa tahun di blogdetik, Anjari pernah memutuskan untuk menghidupkan domain sendiri. Nama yang dipilihnya waktu itu anjari.net. Sayangnya kesibukan yang menyita waktunya membuat blog tersebut sedikit terbengkalai. Hingga akhirnya nama domain tersebut berhasil dibeli orang lain dan dijual kembali dengan nilai tinggi.


Tapi toh bukan anjari namanya kalau betah meratap nasib karena nama blog dibeli orang. Ide di kepalanya pun berputar hingga memutuskan untuk mengambil url domain anjaris.me ini. Kenapa nama ini yang dipilih? Domain ini menyesuaikan dengan akun twitternya yang beralamat di @anjarisme.


Lantas kenapa sekarang? Alasannya berkaitan urusan personal. Karena di tanggal ini pula Anjari kecil lahir, alias ini adalah ulang tahun beliau.


So, posting ini merupakan ucapan selamat untuk dua hal. Pertama selamat ulang tahun dan kedua ucapan selamat menempati rumah baru. Semoga rumah baru ini bertahan dan terus konsisten untuk tetap up date.


Salam
Reza Gardino

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

SD Anak Saya Mendadak Berubah Menjadi Madrasah

Ujian Nasional kembali dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ujian Nasional menuai pro dan kontra disebabkan permasalahannya yang tak pernah diselesaikan. Hal ini kembali membangkitkan pertanyaan; apa yang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa urusan Ujian Nasional saja begitu menyedot energi bangsa ini? Bukankah masih banyak urusan pendidikan yang lebih urgen dan penting?

Tak sedikit anak yang putus sekolah karena orang tuanya miskin. Masih banyak anak Indonesia yang tak mengenyam pendidikan dasar 9 tahun karena harus membantu mencari nafkah. Masih bertebaran bangunan dan sarana sekolah yang rusak tak segera diperbaiki. Bisa jadi ribuan Guru honorer tak juga diangkat sebagai guru tetap atau PNS meski sudah berpuluh tahun mengabdi. Anggaran pendidikan 25 persen dari APBN atau sekitar Rp 300 Trilyun seakan menjadi kutukan bagi negeri ini. Karena anggaran berlimpah itu, tak juga menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan Indonesia.

Bicara pendidikan Indo…