Langsung ke konten utama

Ada apa dengan #Blogger2Hospital ?

Pernahkah anda melihat garis warna merah, hijau, kuning dan hitam pada lantai ruang IGD sebuah rumah sakit? Tahukah anda itu tanda apa? Sekedar terlihat keren, ataukah ada maksudnya? Tahukah anda mengapa ruang rawat inap pasien dibedakan laki-laki perempuan, dewasa anak, infeksius dan non infeksius?


Tahukah anda ruang bedah tidak boleh bersudut tajam melainkan melengkung? Tahukah anda mengapa harus berkali-kali diambil darahnya untuk setiap pemeriksaan laboratorium? Tahukah anda bahwa pintu radiologi harus berlapis pelat baja? Tahukah anda bahwa rumah sakit merupakan organisasi paling kompleks dengan sekurangnya ada 26 profesi didalamnya?


Itu hanya sebagian kecil pertanyaan yang sebagian besar orang bekum tentu bisa menjawabnya. Jangankan orang awam, apalagi yang jarang ke rumah sakit, pekerja rumah sakit pun belum tentu mengetahuinya.


Dalam berbagai kesempatan saya melakukan klarifikasi terhadap sebuah kasus yang menyangkut hubungan pasien dan rumah sakit, banyak menemukan fakta menarik. Dimana saya menemukan pasien atau keluarganya awam sekali terhadap standar dan prosedur rumah sakit. Rumah sakit adalah dunia asing bagi sebagian besar pasien. Disisi lain, sebagian besar rumah sakit tidak mampu menjelaskan secara baik dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam. Bisa dimaklumi pada saat itu, boro-boro pasien/keluarga sempat belajar standar & prosedur rumah sakit, merasakan sakitnya pun sudah kepalang. Belum lagi was-was dengan biaya pengobatan yang bisa jadi menguras tabungan bertahun-tahun. Demikian juga Rumah Sakit sudah kewalahan melakukan pengobatan pasien sehingga melupakan fungsi dan peran edukasi pasien.


Padahal pasien/keluarga yang cerdas sangat membantu dokter/rumah sakit dalam pelayanan kesehatan. Pasien cerdas mempercepat proses anamnesa, diagnosa, pemeriksaan penujang dan terapi. Singkatnya, pasien cerdas membantu percepatan penyembuhan dan pemulihan. Alangkah indahnya, jika pasien dan dokter terjalin komunikasi yang baik oleh karena pasien yang mengerti dunia rumah sakit.


Berawal dari persoalan itulah, saya berfikir bahwa mengapa pada saat sehat kita (calon pasien) mencoba mengerti dunia perumahsakitan. Kita mempelajari secara umum bagaimana sih rumah sakit dijalankan. Kita berusaha tahu prinsip dan standar dasar pelayanan rumah sakit. Bukan bermaksud putar haluan berkarir di rumah sakit, melainkan memahami dan mempelajari dunia rumah sakit. Tujuannya sederhana, agar jika jadi pasien atau mendampingi keluarga tidak awam sama sekali. Syukur jika terhindar dari kebingungan dan kegelisahan diaebabkan ketidaktahuan terhadap prosedur dan standar rumah sakif.


Untuk mewujudkan keinginan itu, saya ingin mengajak kawan-kawan blogger melakukan kunjungan ke rumah sakit. Ya, istilah kerennya hospital tour dengan nama #blogger2hospital. Diharapkan dengan kemampuan dan passionnya, blogger bisa menceritakan pengalaman dan insight selama #blogger2hospital melalui postingan, twit atau pesan statusnya. Tapi maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, #blogger2hospital ini bukan event endorsing dan buzzing. Saya hanya mencoba membangkitkan sisi passionate dan keingintahuan para blogger tentang dunia perumahsakitan. Saya hanya ingin katakan bahwa rumah sakit itu komplek sekaligus unik lho. Dan anda, blogger, harus tahu dan menceritakan kepada para pembacamu.


Pasti anda bertanya, apa saja yang dilakukan pada acara #blogger2hospital ? Ya, seperti layaknya sebuah tour. Kita akan dipandu dan dijelaskan bagaimana rumah sakit dijalankan. Standar, prosedur, ketenagaannya, jenis layanan, ruangan, peralatan dan lain-lain. Tenang saja, semuanya dengan bahasa manusia awam, bukan bahasa medis. Toh, kalau tak mengerti boleh bertanya. Peserta juga #blogger2hospital akan dikenalkan dengan manajer, dokter, perawat, satpam dan office boy-nya. Dan rencananya, kita berkunjung kepada pasien yang kebetulan dirawat guna menunjukkan simpati dan empati atas sakitnya.


Saya akui, tidak mudah mencari rumah sakit yang mau menerima kunjungan #blogger2hospital ini. Sekali lagi, rumah sakit itu dunia lain yang relatif tertutup. Interaksi dan komunikasi yang terjalin dengan orang luar tidak seterbuka dibanding institusi lain. Tapi syukurlah, RS Premier Bintaro bersedia menjadi rumah sakit pertama yang mau terima rombongan #blogger2hospital. Rumah sakit berstandar internasional ini membolehkan 15 blogger belajar tentang dunia rumah sakit pada tanggal 29 Maret 2014.


Semoga saja acara #blogger2hospital yang pertama ini berjalan lancar. Siapa mau ikut?

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

Boleh Saja Rumah Sakit Meminta Uang Muka, Asal...

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Substansi norma ini diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara memahami makna dari aturan tersebut. Kenapa demikian? Karena masih banyak kesimpangsiuran pemberitaan yang cenderung tidak obyektif dan melenceng dari fakta. Bisa jadi hal ini disebabkan kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Pertama yang akan kita bahas adalah keadaan darurat atau kegawatdaruratan. Secara terminologi 2 kata ini berbeda, namun substansinya sama. Dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan diatur bahwa dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Mari kita perhatikan dengan seksama kalimat diatas. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa pelayan…