Langsung ke konten utama

5 Pelajaran dari Wannacry

Ransomware WannaCry memang luar biasa, selama tiga hari sekitar 200 ribu komputer di 150 negara jadi korban. Di Indonesia terdeteksi 320 serangan wannacry, telah membuat gaduh nasional. Dari ratusan korban itu, RS Dharmais menjadi paling populer pemberitaan. Dikabarkan Wannacry menjangkiti 60 komputer di RS Dharmais.

Secara psikologis, Wannacry menghantui aktivitas kantor hari pertama Minggu ini. Sampai-sampai mematikan sama sekali akses internet pada hari senin (15/5/2017) kemarin.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari Wannacry agar rumah sakit, insitusi atau perusahaan kita tidak "menangis" di kemudian hari, yaitu

1. Rajin memutakhirkan perangkat lunak
Komputer yang terkena serangan Wannacry adalah komputer dengan sistem Windows yang tidak update patch windows. Padahal windows rajin mengeluarkan patch untuk menambal celah-celah keamanannya. Sementara perangkat lunak yang tidak lagi disediakan patch, sebaiknya memang diganti. 

2. Hati-hati membuka dokumen dari email yang tidak dikenal
Ransomware sering masuk melalui email tipuan (phising). Jangan membuka email apalagi lampiran dari alamat email yang tidak dikenal atau mencurigakan.

3. Pasang antivirus dan rajin dimutakhirkan
Sangat disarankan pasang antivirus yang mampu mendeteksi email atau menjaga keamanan berinternet. Dan jangan lupa di-update secara rutin.

4. Berinternet sehat
Jangan suka menjelajah ke "tempat-tempat aneh", seperti akses web yang menyediakan pornografi, download software bajakan dan unduh film, game, MP3 bajakan. Hati-hati ya, disinilah sering banyak ranjau malware dan virus, termasuk diantaranya Ransomware.

5. Matikan komputer dan akses internet ketika tidak digunakan
Serangan pertama Wannacry kemarin terjadi pada hari Sabtu, dimana sebagian besar kantor tutup/libur. Dan komputer yang terinfeksi Wannacry yang hidup dan terkoneksi internet. Jadi jangan lupa mematikan komputer dan internet ketika jam kantor selesai atau tidak digunakan. Selain agar hemat energi, mematikan komputer akan mengamankan data anda dari si pencuri atau si perusak.

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

Boleh Saja Rumah Sakit Meminta Uang Muka, Asal...

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Substansi norma ini diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara memahami makna dari aturan tersebut. Kenapa demikian? Karena masih banyak kesimpangsiuran pemberitaan yang cenderung tidak obyektif dan melenceng dari fakta. Bisa jadi hal ini disebabkan kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Pertama yang akan kita bahas adalah keadaan darurat atau kegawatdaruratan. Secara terminologi 2 kata ini berbeda, namun substansinya sama. Dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan diatur bahwa dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Mari kita perhatikan dengan seksama kalimat diatas. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa pelayan…