Langsung ke konten utama

Apa sih Postingan Inspiratif #30HariNonStopNgeblog

Dalam #30HariNonStopNgeblog yang digagas DBlogger ada kategori Postingan Inspiratif. Yang perlu dicatat bagi peserta #30HariNonStopNgeblog bahwa tidak harus seluruh postingan selama 30 hari diikutkan dalam kategori ini. Satu dua boleh. Lima sepuluh pun diizinkan. Tapi kalau mampu menciptakan 30 postingan inspiratif pun, silahkan diikutkan.

Bagi saya, posting #30HariNonStopNgeblog itu pekerjaan yang sangat berat. Hanya blogger dengan semangat tinggi mampu posting selama 30 hari nonstop. Sudah berat secara kuantitas, dipersulit lagi dengan kualitas yang harus inspiratif. Memang setiap postingan blog pasti punya nilai khususnya bagi bloggernya. Mungkin saja setiap postingan berpotensi manfaat bagi pembacanya. Tapi tidak setiap postingan membawa inspirasi didalamnya. Entahlah, barangkali ada blogger cerdas yang setiap postingannya mampu memberi inspirasi bagi pembacanya.

Jika demikian apa sih postingan inspiratif #30HariNonStopNgeblog? Sebenarnya tidak muluk-muluk sih. Inspiratif yang saya maksud, ketika pembaca mengangguk-angguk selesai membaca postinganmu. Atau pembaca bilang begini," Aha! Ini yang aku cari". Atau "Iya ya, kenapa aku tak lakukan begitu?" dan lain-lain ucapan yang menandakan pembaca terbuka fikirannya dan tergerak hatinya begitu membaca postinganmu. Terbukanya fikiran itu dapat merangsang ide. Tergeraknya hati itu akan mendorong tindakan atau aksi bagi pembaca.

Serius banget ya? Tudak sih. Silahkan posting dengan hati gembira. Tidak perlu berat difikirkan. Anda tidak akan tahu apakah postinganmu menginspirasi. Pembacalah yang dapat menilai dan merasakan seberapa inspiratifnya postinganmu. Saya meyakini, setiap postingan akan menemukan pembacanya sendiri. Yang harus dilakukan adalah posting, posting dan posting lagi. Dan saya akan temukan inspirasi dalam postingan itu.

Selamat mengikuti #30HariNonStopNgeblog. Kita ketemu digaris akhir postingan inspiratif.

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

SD Anak Saya Mendadak Berubah Menjadi Madrasah

Ujian Nasional kembali dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ujian Nasional menuai pro dan kontra disebabkan permasalahannya yang tak pernah diselesaikan. Hal ini kembali membangkitkan pertanyaan; apa yang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa urusan Ujian Nasional saja begitu menyedot energi bangsa ini? Bukankah masih banyak urusan pendidikan yang lebih urgen dan penting?

Tak sedikit anak yang putus sekolah karena orang tuanya miskin. Masih banyak anak Indonesia yang tak mengenyam pendidikan dasar 9 tahun karena harus membantu mencari nafkah. Masih bertebaran bangunan dan sarana sekolah yang rusak tak segera diperbaiki. Bisa jadi ribuan Guru honorer tak juga diangkat sebagai guru tetap atau PNS meski sudah berpuluh tahun mengabdi. Anggaran pendidikan 25 persen dari APBN atau sekitar Rp 300 Trilyun seakan menjadi kutukan bagi negeri ini. Karena anggaran berlimpah itu, tak juga menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan Indonesia.

Bicara pendidikan Indo…