Langsung ke konten utama

GOCAR MULAI 'NGGAK ASIK'

Ini cerita saya pagi ini (Rabu, 2/8/2017). Saya mesti naik kereta api ke Bandung jam 05.05 dari stasiun Gambir. Sekarang jam 03.36.

Tidak Tahu Jalan, Tidak Komunikatif Lagi.

Setelah pesan Gocar, muncul tulisan pengemudi sampai dalam 5 menit. Saya menunggu telp konfirmasi dan tanya persisnya penjemputan. Biasanya begitu. Tidak ada telp masuk.

"Pagiiii.. Gocar ya? Posisi dimana mas?" Saya menelepon setelah 2 menit menunggu.
"Bapak dimana?"
"Jemput di Al Falaq saja ya mas" saran saya. Rumah saya di jalan kecil yang mungkin sulit dicari. Saya mengalah jalan kaki 200 meter ke jalan raya I Gusti Ngurah Rai, tepatnya Klinik Al Falah Klender.
"Oh, sebelah kiri ya pak. Ya saya tahu"

Saya pamit dengan istri. Jarak POM Bensin dengan tempat penjemputan tidak lebih 2 menit.   Sekitar 3 menit kemudian, saya sudah sampai Al Falah.

Saya lihat peta Gocar, sebuah mobil masih di tengah jalan. Mendekati tempat penjemputan, terlihat mobil malah berputar dan menjauh. Kemudian berhenti di lampu APILL.

"Halo, sampai mana mas?"
"Al Falah sebelah kiri kan? Sudah dekat nih"

Okay. Saya berprasangka dia mau melawan arah setelah lampu merah. Mungkin karena pagi hari yg masih sepi. Dugaan saya salah. Dia berputar lagi di jalan layang simpang Klender. Semakin menjauh ke arah Pulo Gadung.

Baru jam 04.04 Gocar sampai di penjemputan. Sekitar 28 menit menunggu sejak pesan Gocar.

Tidak Ramah bin Lambat Jalannya.

"Pagi mas", sapa saya begitu masuk mobil
"Waduh, saya kesasar tadi"
"Iya, masnya muter-muter. Sudah dekat, eh malah jauh". Dia diam. Dia sibuk klak klik layar hape yang mengeluarkan suara GPS.
"Gambir ya" katanya.
"Iya mas". Mobil mulai berjalan perlahan.
"Padahal sampai sini tadi, saya bisa jalan kaki, mas. Jadi anda tidak perlu mutar jauh", jelas saya ketika diatas jalan layang klender.
"Oh gak papa ya?"

Mobil berjalan dengan kecepatan sekitar 40 KM. Jalan masih sepi. Sesekali lewat motor. Menyalip bis TransJakarta. Gocar yang saya tumpangi berjalan di belakangnya.

"Mas, bisa lebih cepat nggak ya? Kereta saya jam 5. Kuatir telat"
"Maunya kecepatan berapa?"
"Ya, lebih cepat saja. Jalanan lengang kok". Bis TransJakarta sudah tak terlihat. Jalan di depan nampak gelap, tidak ada mobil atau motor.

"Mau lewat mana mas?" Tanya saya.
"Terserah saja"
"Ohh, kalau gitu lewat cempaka putih aja ya mas"
"Wah, jauh. Muter-muter. Katanya mau cepat sampai. Kita lurus-lurus aja. Matraman Menteng"
"Ya, sudah terserah". Saya mulai kesal. Jika lebih tahu jalan lebih dekat, mengapa ia bilang terserah.

Mobil berjalan konstan sekitar 40 KM meski sebenarnya bisa dipacu lebih cepat, sekitar 60 KM/jam. Saya memilih diam.

"Masuk nggak", tanyanya begitu sampai di tugu tani.
"Nggak usah mas. Di pinggir jalan saja, nanti sy masuk jalan kaki".
Pengemudi hanya diam. Krek. Bunyi kunci pintu mobil dibuka. Pintu masuk Gambir masih sekitar 100 meter di depan.

"Terima kasih ya mas. Pakai gopay ya"
"Ok" jawabnya singkat.

Sambil memasuki pintu masuk Gambir, saya buka layar hape saya. Jam 04.29. Muncul tulisan "terima kasih telah menggunakan Gocar". Kemudian terpampang foto dan nama pengemudi.

Ada tulisan pertanyaan "Bagaimana pelayanan kami?" Dibawahnya, icon 5 bintang warna abu-abu yang minta ditandai warna kuning.

Kasih berapa bintang, ya?

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

Boleh Saja Rumah Sakit Meminta Uang Muka, Asal...

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Substansi norma ini diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara memahami makna dari aturan tersebut. Kenapa demikian? Karena masih banyak kesimpangsiuran pemberitaan yang cenderung tidak obyektif dan melenceng dari fakta. Bisa jadi hal ini disebabkan kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Pertama yang akan kita bahas adalah keadaan darurat atau kegawatdaruratan. Secara terminologi 2 kata ini berbeda, namun substansinya sama. Dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan diatur bahwa dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Mari kita perhatikan dengan seksama kalimat diatas. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa pelayan…