Langsung ke konten utama

Diary Sang Zombigaret: Kisah Klasik Saya tentang Rokok


Tanggal 18 maret 2014, saya pernah ngetwit begini :
Mulai April 2014 bungkus rokok harus cantumkan peringatan kesehatan dg GAMBAR MENGERIKAN ini.

Tweet dilampiri gambar model bungkus rokok dengan peringatan bahaya rokok berwujud foto akibat merokok yang menurut saya mengerikan. Tweet ini banyak puluhan atau ratusan di-retweet. Saya membuat tweet tersebut setelah membaca Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2013 tentang Pencatuman Peringatan Kesehatan & Informasi Kesehatan pada Kemasan Produk Tembakau yang ditandatangani 1 April 2013. Asumsi saya, dengan masa peralihan 12 bulan, maka Permenkes tersebut berlaku efektif mulai April 2014.

Saya lupa bahwa Permenkes tersebut sebagai peraturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, yang berlaku efektif nanti bulan Juni 2014. Dengan kata lain, jika konsisten dengan peraturan maka sejak Juni nanti pada bungkus rokok akan tercantum gambar-gambar mengerikan akibat merokok tadi. Dan jika kita perhatikan, iklan-iklan rokok sudah mulai mencantumkan itu di baliho atau iklan videonya. Bagi yang penasaran seperti gambarnya, bisa dicari kok di google :)

Saya minta maaf dengan penyebutan waktu yang tidak tepat, meskipun secara substansi kemasan rokok seperti dalam tweet tersebut hanya masalah waktu. Barangkali saya terlalu semangat dan antusias menyambut kemasan rokok bergambar mengerikan itu. Alasannya sederhana, saya berharap gambar itu bisa lebih menyadarkan kita terhadap bahaya merokok.

Bicara soal kebiasaan merokok, saya adalah orang yang sangat terganggu dengan asap rokok. Selain membuat sesak pernafasan, baunya pun menyengat dan terasa menempel di badan. Saya bukan perokok, tidak suka asap rokok tapi banyak sahabat perokok. Tapi sebenarnya, saya tidak sama sekali tidak pernah merokok lho. Ya, itung-itung sebagai cara saya menyongsong berlaku efektifnya aturan kemasan rokok dengan gambar mengerikan itu, saya mau cerita sedikit kisah klasik awal mengenal rokok.

Kisah saya ini mengangkat pada titik masa dan titik rawan dimana hampir setiap orang mulai mengenal rokok. Yaitu masa remaja dan masa coba-coba. Berdasarkan riset bahwa sebagian besar pecandu rokok berawal dari coba-coba atau ikut-ikutan. Atas nama pergaulan, perkawanan dan pencarian jati diri, masa muda atau remaja adalah awal mengenal rokok. Demikianlah juga saya.

Masa remaja saya tinggal di tanah kelahiran, sebuah dusun di Jogja bagian selatan. Seperti remaja kebanyakan di dusun saya waktu itu, perjumpaan saya dengan rokok pertama kali pada acara hajatan sunatan. Pada saat kita “menyumbang” (memberi amplop) kepada kawan yang disunat, sebagai imbalannya saya diberi sebatang rokok. Saya masih ingat merknya, Commodore.

Sebagai remaja dimana proses perkawanan begitu kental dan proses coba-coba menjadi hal yang menarik, maka saya pun ikut-ikutan menghisap rokok. Meski dengan tenggorokan sesak dan batuk-batuk, saya habis juga sebatang rokok. Pada saat itu merasa keren saja. Saya merasa sudah menjadi bagian dari pergaulan itu. Perilaku coba-coba dan ikut-ikutan itu ternyata berlanjut pada kesempatan lain, misalnya pada saat nonton ketoprak atau wayang.

Tapi sepanjang ingatan, saya belum pernah membeli rokok dari uang sendiri. Jadi pada proses coba-coba dan ikut-ikutan itu, rokoknya gratis. Bukan karena pelit, tetapi dalam batin saya merasa sayang membelanjakan uang saya yang sedikit itu hanya untuk sebatang rokok. Saya merasa rugi keluar uang hanya untuk sesuatu yang sebenarnya saya tak bisa nikmati rasanya. Dengan uang yang ada, saat itu saya lebih memilih jajan soto atau bakmi jawa. Ya sesederhana itu.

Berjalannya waktu, saya mulai mengenal aktivitas remaja masjid. Juga mulai bergaul dengan remaja masjid antara dusun yang tergabung dalam jaringan pemuda Muhammadiyah. Dari aktifitas remaja masjid ini mampu mengerem proses coba-coba tidak meningkat menjadi penikmat bahkan pecandu rokok. Secara gamblang saya katakan bahwa pemahaman agama dan status "aktifis" muhammadiyah (meski tingkat desa), membantu saya berhenti (mulai) rokok. Bahkan mulai mencoba gaya hidup baru, suka minum air putih. Padahal kebiasaan di dusun saya, tidak ada hajatan atau perkumpulan tanpa suguhan teh manis panas berikut rokok. Jadi ditengah kebiasaan suguhan teh manis dan asap rokok, saya memilih air putih dan tidak merokok.

Kebiasaan saya tidak merokok dan minum air putih pada saat menghadiri hajatan atau perkumpulan itu, menjadi ciri khas sendiri diantara kawan yang lain. Pastinya terlihat berbeda. Tapi secara perlahan, citra tidak merokok dan air putih itu seakan menjadi jati diri dan personal brand. Orang lain akhirnya maklum itu, dan saya pun merasa percaya diri menjadi orang bukan perokok diantara para perokok. Singkat kisah, sikap dan kebiasaan tidak merokok itu bertahan hingga sekarang.

Dari pengalaman pribadi ini, saya ingin garis bawahi; masa remaja merupakan masa kritis seseorang terhadap rokok. Pada saat itulah; masa coba-coba, ikut-ikutan, mencari jadi diri; masa yang menentukan seseorang menjadi pecandu rokok atau bukan perokok. Aktivitas positif dan pergaulan yang tepat pada usia remaja bisa menyelamatkan manusia Indonesia dari bahaya merokok. Demikian juga nanti dengan berlakunya peraturan (permenkes) kemasan rokok, diharapkan mampu mengurangi dampak buruk merokok. Syukur bisa mengurangi jumlah pecandu rokok, atau sekurangnya menekan munculnya perokok-perokok baru.

Oh ya, melalui postingan ini saya mengajak para pembaca yang peduli terhadap bahaya merokok untuk ikut lomba blog “Diary Sang Zombigaret”. Dalam lomba “Diary Sang Zombigaret” ini, blogger memposisikan dirinya sebagai zombigaret, seorang manusia yang menjadi zombie karena merokok sangat banyak sehingga akhirnya harus hidup setengah mati.

Pemenang lomba “Diary Sang Zombigaret” akan mendapatkan hadiah yang menarik yaitu :

  • Pemenang pertama akan mendapatkan tiket gratis liburan ke Bali selama 3 hari 2 malam untuk 2 orang.

  • Pemenang kedua akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 1.000.000

  • Pemenang ketiga akan mendapatkan hadiah sebesar Rp 500.000


Bagaimana caranya? Berikut syarat dan ketentuannya:

  • Periode kuis terhitung tanggal 15 April – 15 Mei 2014

  • Sudut pandang pertama sebagai zombigaret

  • Alur bebas (maju, mundur, campuran)

  • Panjang tulisan 500 – 600 kata

  • Karakter zombie dalam naskah harus setidaknya menderita satu dari tiga penyakit sebagai berikut: Kanker mulut, kanker tenggorokan, atau kanker paru-paru.

  • Peserta hanya boleh mensubmit satu tulisan.

  • Naskah harus ditulis perorangan

  • Naskah asli karangan sendiri dan tidak plagiat / saduran dari karya milik orang lain

  • Peserta harus like facebook Zombigaret

  • Naskah diunggah di blog masing-masing. Peserta yang telah mempost naskah di blog dapat mempost link tulisannya ke message facebook zombigaret. www.facebook.com/zombigaret.

  • Follow juga akun twitter @zombigaret


Tunggu apalagi? Ayo ikut!

 

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

SD Anak Saya Mendadak Berubah Menjadi Madrasah

Ujian Nasional kembali dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ujian Nasional menuai pro dan kontra disebabkan permasalahannya yang tak pernah diselesaikan. Hal ini kembali membangkitkan pertanyaan; apa yang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa urusan Ujian Nasional saja begitu menyedot energi bangsa ini? Bukankah masih banyak urusan pendidikan yang lebih urgen dan penting?

Tak sedikit anak yang putus sekolah karena orang tuanya miskin. Masih banyak anak Indonesia yang tak mengenyam pendidikan dasar 9 tahun karena harus membantu mencari nafkah. Masih bertebaran bangunan dan sarana sekolah yang rusak tak segera diperbaiki. Bisa jadi ribuan Guru honorer tak juga diangkat sebagai guru tetap atau PNS meski sudah berpuluh tahun mengabdi. Anggaran pendidikan 25 persen dari APBN atau sekitar Rp 300 Trilyun seakan menjadi kutukan bagi negeri ini. Karena anggaran berlimpah itu, tak juga menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan Indonesia.

Bicara pendidikan Indo…