Langsung ke konten utama

HARI HARAPAN KESEHATAN NASIONAL #HKN51

Selamat pagi! Apa kabarmu hari ini? Alhamdulillah, Sehat ya.

Hari ini, Hari Kesehatan Nasional. Sudah 51 tahun, 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN).

Kemarin, 1 hari menjelang HKN, telah meninggal dunia dalam masa baktinya dr. Dionisius Giri Samudra. Dokter intersip ditempatkan di RSUD Cendrawasih Kep. Aru yang letaknya pun sulit dicari di peta. Pemerintah, profesi dokter, tenaga kesehatan dan kita semua berduka cita mendalam atas wafatnya satu lagi “Pahlawan Kesehatan”. 

Menangis sedih itu boleh, tapi tak perlu meratapi. Sebaliknya wafatnya dr Andra,“Pelayanan Kesehatan Masyarakat”, ini harusnya menjadi inspirasi bagi dokter, tenaga kesehatan, pemerintah dan masyarakat Indonesia. Inspirasi pengabdian bagi profesi kesehatan. Inspirasi bagi kita semua, apa yang kita lakukan untuk menjaga, memelihara dan memperjuangkan kesehatan kita? 

Layaknya sebuah peringatan atau hari ulang tahun, kita harapan sebelum meniup lilin. Oleh sebab itu, pada Hari Kesehatan Nasional ini mari kita panjatkan harapan (make a wish), Harapan Kesehatan. Harapan itu bisa untuk kesehatan diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia. 

Kita bisa berharap dalam hati. Kita pula bisa mengekspresikan harapan itu. Bisa melalui status Facebook, kicauan Twitter, jepretan foto Instagram, broadcast BBM atau Whatsapp, postingan di blog dan dimana saja. Tulislah harapan kesehatan itu dengan tanda pagar ‪#‎HKN51‬. Melalui twitter, kaitkan harapanmu ‪#‎HKN51‬ pada akun @PuskomDepkes yang akan menebarkannya kembali.

Biarkan orang lain membaca harapan itu, biarkan dunia maya mencatat harapan kesehatan itu. Mari kita jadikan hari ini, Hari Kesehatan Nasional, menjadi Harapan Kesehatan Nasional ‪#‎HKN51‬. Siapa tahu harapan kesehatan kita, menginspirasi orang lain. Dan berharap kuat, harapan kesehatan kita menjadi kenyataan di tahun berikutnya.

Apa harapanmu di Hari Kesehatan Nasional ‪#‎HKN51‬ ini?

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

SD Anak Saya Mendadak Berubah Menjadi Madrasah

Ujian Nasional kembali dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ujian Nasional menuai pro dan kontra disebabkan permasalahannya yang tak pernah diselesaikan. Hal ini kembali membangkitkan pertanyaan; apa yang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa urusan Ujian Nasional saja begitu menyedot energi bangsa ini? Bukankah masih banyak urusan pendidikan yang lebih urgen dan penting?

Tak sedikit anak yang putus sekolah karena orang tuanya miskin. Masih banyak anak Indonesia yang tak mengenyam pendidikan dasar 9 tahun karena harus membantu mencari nafkah. Masih bertebaran bangunan dan sarana sekolah yang rusak tak segera diperbaiki. Bisa jadi ribuan Guru honorer tak juga diangkat sebagai guru tetap atau PNS meski sudah berpuluh tahun mengabdi. Anggaran pendidikan 25 persen dari APBN atau sekitar Rp 300 Trilyun seakan menjadi kutukan bagi negeri ini. Karena anggaran berlimpah itu, tak juga menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan Indonesia.

Bicara pendidikan Indo…