Langsung ke konten utama

Catatan Kunjungan ke ANRI: Seberapa Jauh Kita Mengetahui Sejarah Perjalanan Bangsa?

Dulu Arsip Nasional disingkat Arnas. Mirip nama artis yang bom seks itu, makanya diubah menjadi ANRI, Arsip Nasional Republik Indonesia. Demikian cerita Pak Imam Gunarto (Direktur Konservasi ANRI). Seketika ruangan sedikit riuh oleh tawa dan komentar. Entah bercanda atau benar itu menjadi alasan berubahnya Arnas menjadi ANRI, saya tak sempat konfirmasi langsung. Namun sekurangnya, kalimat itu sedikit mengendurkan rasa sakit di kepala dan terasa mendinginkan demam badan saya sejak semalam.

Jum’at (6/7/2014), saya bersama kawan-kawan peserta, fasilitator dan narasumber Diklatpim IV Kementerian Kesehatan melakukan kunjungan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jalan Ampera Raya No. 7 Jakarta Selatan. Kunjungan ini sebagai bagian dari memperkuat pemahamanan wawasan kebangsaan khususnya 4 Pilar Kebangsaan. Inilah pertama kalinya saya berkunjung ke ANRI. Sakit kepala dan demam tak menghalangi saya mengikuti kunjungan pada institusi mempunyai visi "Arsip sebagai Simpul Pemersatu Bangsa".

Setelah diterima oleh Bagian Humas, kami ditemani pemandu menelusuri "Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa". Di sebelah kanan pintu masuk Ruang diorama, kami disambut relief senyuman presiden pertama hingga Presiden SBY (ke-6) dengan judul "Senyummu Indonesiaku". Kata Pak Imam, pernah ada pertanyaan dari seorang anggota DPR terkait relief ini. Mengapa yang ditengah-tengah Pak SBY, kenapa bukan Bu Mega. Dia kan perempuan sendirian, sehingga sepantasnya dikelilingi para presiden pria. Tentu saja, Pak Imam kesulitan menjawab pertanyaan ini.

Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa diresmikan oleh Presiden SBY pada 31 Agustus 2009. Didalamnya pengunjung dapat melihat proses dinamika dari masa ke masa sejarah perjalanan Indonesia dalam bentuk arsip yang disajikan dengan sentuhan teknologi informasi dan karya seni.

Ruang diorama seluas 750 m² dibagi menjadi 8 hall. Setiap hall menampilkan petikan peristiwa dan episode tertentu perjalanan bangsa. Tentu tidak semua episode sejarah perjalanan bangsa dapat ditampilkan dalam diorama ini. Istilah Pak Imam, ANRI ini merawat, memelihara dan melayankan memori kolektif bangsa. Dengan demikian, dalam diorama ini "hanya" menampilkan episode tertentu dari sejarah yang telah menjadi memori kolektif bangsa. Dimulai dari masa kejayaan Nusantara, perjuangan melawan penjajah, kebangkitan nasional, proklamasi kemerdekaan, masa mempertahankan kemerdekaan, masa mengisi kemerdekaan, masa reformasi dan diakhir diorama, pengunjung disuguhkan film perjuangan dalam mini theatre.

ANRI dan Empat Pilar Kebangsaan

Istilah Empat Pilar Kebangsaan dipopulerkan MPR sebagai upaya kembali menyosialisasikan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Sesungguhnya, Mahkamah Konstitusi telah menghapus frasa "empat pilar berbangsa dan bernegara" dalam Pasal 34 ayat (3b) UU Parpol karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Tapi sejenak mari kesampingkan hal itu. Secara substansi, wawasan kebangsaan bagi setiap seluruh rakyat Indonesia itu sangat penting. Tidak terkecuali Pegawai Negeri Sipil harus mampu mendalami Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi dasar, NKRI bentuk negara dan semangat ber-bhineka tunggal ika.

Jika selama ini wawasan kebangsaan diajarkan kepada peserta didik secara konsep dan teoritis di kelas, kunjungan ke ANRI adalah salah satu metode dalam memahami, menghayati dan menyerap nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI & Bhinneka Tunggal Ika. Demikian juga melalui Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa, banyak hal yang dapat diambil hikmahnya guna memperkuat nilai-nilai 4 pilar berbangsa bernegara itu.

Terbagi dalam 8 hall, pengunjung akan disuguhi replika dari prasasti yang ditemukan diberbagai daerah di Indonesia yang menggambarkan masa kerajaan nusantara. Data dan keterangan setiap prasasti juga disajikan dalam buku digital berlayar sentuh. Buku digital ini juga tersedia di hampir semua hall, seperti hall yang menampilkan profil para pahlawan bangsa, sehingga pengunjung bisa menggali informasi lebih mudah dan interaktif.

Sebagai wahana memori kolektif bangsa, diorama ANRI juga menyajikan bebeberapa peristiwa yang sudah begitu dikenang masyarakat umum seperti masa pergerakan pemuda hingga tercetusnya Sumpah Pemuda 1928, masa perjuangan kemerdekaan dan perang gerilya. Disajikan pula gambar, patung dan suara asli bagaimana teks proklamasi dibacakan,

Pada bagian hall lain, ditampilkan pula saat peristiwa G30SPKI, patung pahlawan revolusi dan film dokumenter pengangkatan jenazah para jenderal dari sumur Lubang Buaya. Hingga peristiwa bergulirnya orde reformasi dengan ditampilkan suasana gedung DPR/MPR diduduki mahasiswa, teks pernyataan berhenti Presiden Soeharto dari jabatannya sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Dan terakhir, saya mengunjungi hall yang memutar film pendek yang mengisahkan Presiden Soekarno sejak kecil. Itulah gambaran sekilas isi diorama ANRI. Saya tidak dapat menceritakan dengan lebih detil. Selain karena kondisi badan yang tidak sehat, juga harus berpacu dengan waktu sholat Jumat, sehingga tak mampu merekam secara lebih lengkap diorama sejarah perjalanan bangsa di ANRI ini.

Beda Diorama ANRI dengan yang Lain

Barangkali kita bertanya, apa bedanya diorama ANRI ini dibandingkan dengan diorama sejarah yang ada ditempat lain? Saya pernah melihat diorama sejarah di tempat lain, misalnya Monumen Nasional. Jika dibandingkan, diorama ANRI lebih lengkap, lebih modern, dan tentunya lebih menarik dalam menceritakan perjalanan sejarah bangsa. Dalam bayangan saya, arsip merupakan sekumpulan tumpukan kertas tua berupa tulisan dan foto yang lusuh. Namun dalam diorama ANRI, arsip diwujudkan dalam bentuk karya seni yang menarik dan bersentuhan dengan teknologi informasi.

Sebagaimana fungsi arsip nasional sebagai bukti (evidence), diorama ANRI dilengkapi dengan "bukti asli" tulisan, suara, gambar, foto, video, dan benda meskipun dalam bentuk replika. Karena aslinya tersimpan rapi di gedung arsip tersendiri. Yang menarik, ANRI menampilkan 3 versi Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Ini menandakan bahwa ANRI bersikap netral dan berbasis bukti. Meskipun belum terbukti mana yang asli, masyarakat Indonesia perlu tahu ketiga versi Supersemar sebagai bagian yang menentukan sejarah perjalanan bangsa.

Bagi yang ingin mendapatkan informasi lebih detil terhadap benda-benda yang disajikan di Diorama ANRI, disedikan pula ruang baca bagi pengunjung. Malah pengunjung juga bisa mendapatkan layanan penggandaan arsip. Sayang, saya tidak sempat memasuki ruang baca dan menikmati layanan penggandaan arsip ini.

Pengalaman Menarik di ANRI

Selama kunjungan ke ANRI khususnya diorama Sejarah Perjalanan Bangsa, saya mendapatkan pengalaman menarik atau sesuatu yang baru. Misalnya dokumen Supersemar seperti yang telah saya sampaikan diatas. Saya memang telah lama tahu ada beberapa versi Supersemar, tapi baru saat itu mendapatkan kesempatan melihat replika ketiga versi Supersemar itu. Pada saat saya dan rombongan berkerumun di depan replika Supersemar, Pemandu menuturkan bahwa ketiga versi Supersemar itu tak satupun berkop surat Bintang Padi Kapas, sebagaimana kop surat Presiden. Yang ada, 2 versi berkop surat Garuda, yang satu lagi tak kop surat. Kemudian ada versi yang ditulis dengan huruf seperti huruf komputer. Malah ejaaan Soekarno pun ditulis "Sukarno" saja.

Pengalaman menarik lainnya, saat itulah pertama kali saya mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam versi 3 stansa. Sebagai informasi, lagu Indonesia Raya yang saat ini menjadi lagu kebangsaan adalah versi 1 stansa. Pada bagian lain, saya tertarik dengan replika poster pada masa perjuangan dengan gambar dan kalimat yang menarik. Misalnya ada poster bergambar coretan mata dengan tulisan huruf kapital,"Awas! Gerilja Rakjat. Pembantu Blanda. Bangsa Tionghwa sama bangsa Asia! Insjaflah segra dan berbalik bela kepehak Indonesia". Ada lagi poster bergambar sosok pria dengan tangan kanan memegang pistol dan menyilangkankannya di dada. Tulisannya berbunyi,"Ikut Blanda? Awas Gerilja punja 1000 mata!".

Pada kesempatan ini pula, akhirnya saya bisa membandingkan teks prokalamasi antara konsep tulisan tangan, yang diketik dan diucapkan. Secara substansi tidak berbeda, namun secara keredaksiannya saja beda. Misalnya, pada akhir teks proklamasi tertulis "Djakarta, 17-8-’05. Wakil2 Bangsa Indonesia". Di naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik, penanggalan masih menggunakan tahun Jepang, tapi "wakil2 Bangsa Indonesia" diganti dengan "atas nama bangsa Indonesia. Soekarno Hatta". Sedangkan yang pada saat pembacaan teks proklamasi sebagaimana seperti kita dengar selama ini.

Saya tertarik dengan bahasa yang digunakan pada surat dengan tulisan tangan Bung Karno kepada Panglima Besar Soedirman. Bung Karno memanggil Jenderal Soedirman dengan sebutan Adinda, meskipun mereka berbeda pandangan pada saat perang kemerdekaan. Disini membuktikan bahwa Bung Karno pandai merangkai kalimat dan mempengaruhi orang lain.

Pada hall yang menampilkan pahlawan revolusi, pemandu menuturkan bahwa ada perbedaan antara yang ditampilkan dalam film G30S/PKI dengan hasil otopsi jenazah para jenderal yang ditemukan di sumur Lubang Buaya. Jika dalam adegan film para jenderal sempat disiksa (seperti disilet), namun hasil uji forensik menyatakan kematian para pahlawan revolusi itu karena luka tembak saja. Saya juga sempat membaca replika surat pernyataan berhenti Presiden Soeharto yang dibacakan pada 21 Mei 1998.

Itulah Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa ANRI. Diorama singkat ini, cukup memberikan gambaran bahwa Indonesia merupakan proses sejarah yang panjang. Bila dikaitkan dengan empat pilar kebangsaan, maka lahirnya sebuah negara bernama Indonesia dilandasi nilai sila pertama sampai sila kelima Pancasila. Indonesia di masa akan datang harus dibangun didasarkan cita-cita luhur sebagaimana tercantum dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 termasuk didalamnya NKRI. Sejak awal, Indonesia diperjuangkan oleh para pejuang dari berbagai suku bangsa, bahasa dan budaya di Nusantara, oleh karenanya nilai Bhinneka Tunggal Ika harus dijunjung tinggi setiap rakyat Indonesia.

Pernahkah muncul pertanyaan dalam diri kita, untuk apa kita melakukan kunjungan ke ANRI? Melalui Arsip Nasional, memori kolektif bangsa dirawat dan dipelihara sepanjang masa. Melalui arsip-arsip yang tersimpan di ANRI ini, kita bisa mengetahui sejarah, identitas dan jati diri Indonesia. Pengetahuan sejarah perjalanan bangsa, bukan untuk mengetahui siapa yang paling berjasa terhadap berdirinya Republik Indonesia. Bukan pula untuk mengetahui siapa yang salah, siapa yang benar. Juga tidak untuk mencari siapa yang mesti bertanggung jawab atas kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Kita tidak bisa menyalahkan sejarah, karena sejarah memang tidak bisa dirubah. Meskipun sejarah tak bisa dirubah, namun kita punya kehendak dan kekuatan untuk mengubah masa depan. Melalui dokumen sejarah, kita bisa belajar dan mengambil hikmah dalam berpikir dan bertindak demi Indonesia yang lebih baik di masa datang.

Itulah catatan singkat kunjungan ke Diorama Sejarah Perjalanan Bangsa di ANRI. Barangkali banyak kekurangan, tidak lengkap atau terselip ceritanya. Namun itulah nuansa dan kesan dapat saya rekam dengan kondisi badan yang tidak sehat. Demikian juga saat menuliskan catatan ini. Semoga bermanfaat.

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

Boleh Saja Rumah Sakit Meminta Uang Muka, Asal...

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Substansi norma ini diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara memahami makna dari aturan tersebut. Kenapa demikian? Karena masih banyak kesimpangsiuran pemberitaan yang cenderung tidak obyektif dan melenceng dari fakta. Bisa jadi hal ini disebabkan kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Pertama yang akan kita bahas adalah keadaan darurat atau kegawatdaruratan. Secara terminologi 2 kata ini berbeda, namun substansinya sama. Dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan diatur bahwa dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Mari kita perhatikan dengan seksama kalimat diatas. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa pelayan…