Langsung ke konten utama

Pengalaman Menjadi Dosen Tamu UI

“Halo Pak, saya Anjari dari Puskom Publik Kementerian Kesehatan”, sambil berjabat tangan.
“Terima kasih, Pak. Silakan. Lulusan sini juga ya?,” katanya menanyakan apakah saya lulusan UI.
“Bukan pak”
“Ohh, atau UGM?”
“Maaf pak, sebelumnya. Toilet dimana ya?”, saya sudah tak kuat lagi menahan hajat setelah menerobos kemacetan selama 2 jam perjalanan dari kawasan Kuningan Jakarta ke kampus UI Depok.
“Ohh, dibawah pak,” katanya sambil mengantar saya menuju toilet di lantai dasar.
Sungguh saya tak menyangka mendapat pertanyaan pertama pada awal perjumpaan seperti ini. Saya hanya bisa membatin sambil “tertawa gila” dalam hati. Mungkin, tampang dan penampilan saya lulusan UI atau UGM. Ini pasti salah, karena dulu saya gagal ikut UMPTN masuk UGM. UI? Sampai saat ini masih mimpi.
Atau barangkali yang menjadi dosen, atau dosen tamu di UI ini mayoritas lulusan UI dan UGM. Atau kampus top lainnya. “Maaf ya pak, saya mengecewakanmu,” batin saya. Faktanya, saya lulusan luar negeri. Alias perguruan tinggi swasta.


Kemarin (23/12), pertama kali saya menapak kaki di kawasan UI Depok. Tepatnya Fakultas Kesehatan Masyarakat. Menggantikan atasan saya untuk memberikan kuliah tamu “strategi dan implementasi komunikasi kesehatan masyarakat”.
Pengalaman yang berharga dan mengesankan. Berdiri selama 2 jam di depan sekitar 100-an mahasiswa dari 3 kelas. Saya berbagi pengalaman, insight dan contoh implementasi komunikasi publik. Dari 22 slide yang saya siapkan, hanya 4 slide terakhir yang memuat konsep strategi komunikasi kesehatan. Untuk teori dan konsep, mahasiswa UI ini pasti sudah dijejali pada setiap waktu perkuliahan.
“Terima kasih, kita mendapatkan contoh implementasi komunikasi hari ini. Setelah biasanya membahas konsep dan teori. Itu pun dari buku yang itu itu lagi”, kata dosen pendamping di akhir perkuliahan.
Di akhir kuliah, saya menutup dengan kutipan Herb Kelleher, "we have a strategic plan. Its called doing things". Karena faktanya, kami di Puskom Publik tidak sibuk muluk-muluk dengan strategi komunikasi, sebaliknya kami lakukan dan kerjakan strategi komunikasi.
Saya berusaha memberikan insight yang tepat dengan penyampaian yang terbaik sesuai kemampuan. Semoga tak mengecewakan mahasiswa dan dosen yang hadir. Terima kasih kesempatannya

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

Boleh Saja Rumah Sakit Meminta Uang Muka, Asal...

Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Substansi norma ini diatur secara tegas dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam kesempatan ini, saya mengajak Saudara memahami makna dari aturan tersebut. Kenapa demikian? Karena masih banyak kesimpangsiuran pemberitaan yang cenderung tidak obyektif dan melenceng dari fakta. Bisa jadi hal ini disebabkan kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Pertama yang akan kita bahas adalah keadaan darurat atau kegawatdaruratan. Secara terminologi 2 kata ini berbeda, namun substansinya sama. Dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Kesehatan diatur bahwa dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu.

Mari kita perhatikan dengan seksama kalimat diatas. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa pelayan…