Langsung ke konten utama

Untuk Siapa Ucapan Selamat Hari Ibu?

Pagi-pagi sekali, putri pertama saya, Fathimah Alif Salsabila memberikan bungkusan kecil untuk bundanya.

"Selamat hari Ibu, Bunda," katanya.
"Terima kasih nak. Jaga adik di rumah ya. Meski libur, kalau bisa tetap belajar", jawab bundanya sambil memeluknya.

Saya diam memperhatikan, tak mau merusak suasana syahdu itu. Setelah selesai, saya menyalami istri saya dan mengecup keningnya, kemudian pamit menyiapkan kendaraan.
Sementara itu, di Grup WA saya tertebaran gambar meme dan untaian puisi indah yang sepertinya diperuntukkan untuk Sang Ibu. Entahlah, apakah si pengirim pesan-pesan indah itu juga mengirimi Ibu-nya, selain di grup WA.

Mungkin saya termasuk "anak durhaka", karena seingat saya tak pernah mengucapkan secara lisan hari ibu kepada Simbok (Ibu). Apalagi dengan meme atau puisi-puisi indah yang semakin ngetrend di jaman belakangan ini.

Simbok saya itu orang yang sederhana. Beliau cukup meminta ditelepon sekurangnya 1-3x sebulan. Kata beliau, sekedar mendengar suara anaknya atau meriahnya suara cucu. Atau jika sempat, pulang kampung, agar beliau melihat anaknya yang sudah tak anak-anak lagi dan cucu-cucunya.
Simbok pasti kaget jika tiba-tiba mendapat meme dan puisi indah, karena itu terlalu rumit. Apalagi diembel-embeli dengan "Selamat Hari Ibu". Simbok saya lebih suka mendengar cerita saya dan tawa tangis cucunya meski melalui telepon. Beliau menyukai pelukan hangat anaknya saat datang pulang kampung dan pergi saat kembali ke Jakarta. Beliau menyukai mencium ubun-ubun cucu yang rambutnya bau matahari. Lebih nyata, lebih berasa.




Ngomong-ngomong hari ibu, yang hari ini (22/12) banyak orang mengucapkan selamat dengan gambar dan puisi menyentuh, sebenarnya seperti apa sih sejarahnya?
Sedikit serius nih. Mari kita kembali ke masa lalu. Pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I (yang pertama). Gedung Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta menjadi saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Kemudian Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Penetapan hari ibu ini juga diilhami oleh pejuang-pejuan wanita seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain secara tidak langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangan.

Nah, begitu ceritanya mengapa tanggal 22 Desember diperingati Hari Ibu. Tapi kaN pahlawan sesungguhnya seorang anak ya Ibu. Itu benar 1000 persen. Surga dibawah telapak kaki ibu. Hanya saja, barangkali selain "ucapan hari Ibu" untuk Ibu yang melaporkan kita, juga untuk mengenang wanita-wanita pejuang Indonesia.

Pada saat yang sama, saya mengajak kita memahami sejarah dan makna sebuah hari yang diperingati nasional. Sehingga kita tahu benar, untuk siapa sesungguhnya ucapan "Selamat Hari Ibu" itu.
Jika untuk Ibu yang melahirkan kita, semestinya setiap hari kita harus mengucapkan selamat hari ibu melalui doa-doa yang kita panjatkan. Juga komunikasi yang bisa setiap saat kita lakukan. Tidak cukup hanya sekali setahun setiap tanggal 22 Desember dengan meme atau puisi indah. Jangan-jangan meme dan puisi itu bukan karya sendiri ;(

SELAMAT HARI IBU!

Postingan populer dari blog ini

Pasien Harus Tahu, Beda Pelayanan IGD dan Poliklinik

"Apa sih susahnya dilayani dulu, administrasi belakangan. RS tidak peduli pasien miskin"
"RS tempatnya pelayanan bukan tempatnya prosedur"
"Birokrasi RS emang berbeli belit. Ribet deh"

Sudah biasa kan menemui komentar seperti diatas. Demikian juga komentar publik terhadap kejadian Naila yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pelayanan medis kemarin. Dari catatan saya berdasarkan klarifikasi langsung kepada pihak rumah sakit, didapatkan penjelasan bahwa semestinya Naila dirujuk ke IGD, bukan ke Poliklinik. Dari penelusuran saya, ternyata banyak orang belum mengerti bagaimana standar dan prosedur pelayanan di IGD dengan Poliklinik. Padahal sebagai pengguna rumah sakit, kita harus tahu; kapan saatnya ke Poliklinik, kapan mestinya ke IGD. Yuks, kita bahas!

Secara prinsip, prioritas pelayanan medis terhadap pasien didasarkan kepada kondisi dan indikasi medis. Dari sifat kesegeraan penanganan terdapat pasien emergensi dan elektif. Dikatakan pasien emergensi ketik…

Meluruskan Persepsi Salah Atas Cuti Hamil dan Dokter Internship

Siapa yang tak berempati ketika melihat wanita hamil tua yang susah payah mengangkat badan atau berjalan? Melihat wanita hamil dengan segala susah payahnya akan mengingatkan kita pada Ibu yang melahirkan kita atau isteri yang melahirkan anak-anak buah hati kita. Teramat sangat manusiawi jika kita menaruh empati kepada wanita-wanita hamil.

Sebuah tulisan berisi empati terhadap dokter internsip yang sedang hamil tua (konon) ditulis oleh seorang dokter beredar luas. Rasa empati terhadap dokter internsip yang hamil 8 bulan itu bagus sekali. Karena (sekali lagi), setiap kita memang seharusnya berempati. Tetapi rasa empati jangan sampai menghalangi kita bersikap obyektif terhadap program internsip. Rasa empati juga tidak boleh membuat kita mencampuradukan sesuatu hal sehingga mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Dalam hal ini, tulisan tersebut menyimpulkan secara sederhana bahwa karena tidak ada cuti hamil bagi dokter internsip maka program internsip tidak manusiawi. Kesimpulan sederhana i…

SD Anak Saya Mendadak Berubah Menjadi Madrasah

Ujian Nasional kembali dirundung persoalan yang tak kunjung usai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ujian Nasional menuai pro dan kontra disebabkan permasalahannya yang tak pernah diselesaikan. Hal ini kembali membangkitkan pertanyaan; apa yang terjadi dengan bangsa ini? Mengapa urusan Ujian Nasional saja begitu menyedot energi bangsa ini? Bukankah masih banyak urusan pendidikan yang lebih urgen dan penting?

Tak sedikit anak yang putus sekolah karena orang tuanya miskin. Masih banyak anak Indonesia yang tak mengenyam pendidikan dasar 9 tahun karena harus membantu mencari nafkah. Masih bertebaran bangunan dan sarana sekolah yang rusak tak segera diperbaiki. Bisa jadi ribuan Guru honorer tak juga diangkat sebagai guru tetap atau PNS meski sudah berpuluh tahun mengabdi. Anggaran pendidikan 25 persen dari APBN atau sekitar Rp 300 Trilyun seakan menjadi kutukan bagi negeri ini. Karena anggaran berlimpah itu, tak juga menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan Indonesia.

Bicara pendidikan Indo…